Sekedar

December 15, 2012 § Leave a comment


Beberapa hari ini lagi-lagi saya membuktikan bahwa ‘mencari uang itu mudah’. Tetapi yang kita cari dalam hidup kan bukan cuma uang. Kemudian perenungan berlanjut, untuk apa sebenarnya hidup itu? Sebuah pertanyaan klasik yang selalu menjadi siklus: terjawab, terlupa, ditanyakan lagi. Ah, terkadang juga ujungnya kita merasa bahwa pertanyaan itu tidak penting.

Ada tawaran menggiurkan yang mampir ke hadapan saya. Kali ini bisnis telekomunikasi yang cukup besar dan meskipun berbasiskan proyek, bisnis ini tetap dapat sustain. Sangat menjanjikan untuk meraup uang dan hidup dari sana. Tapi saya merasa bahwa bisnis ini hanyalah sekedar bisnis. Dan sayangnya hampir tidak ada persinggungannya dengan rencana hidup saya, sehingga saya kurang selera; tidak dapat merasakan ruhnya sama sekali.

But as a money maker, I should try this. Kita coba aja pelan-pelan, selama itu tidak mengganggu rencana hidup.

Kejadian itu sesungguhnya benar-benar membuat saya berpikir. Godaan berat banget. “Apa gak saya ambil aja peluang ini, dan tinggalkan rencana saya, toh saya bisa makmur dari sini?”. Bentar Jak, apa yang sebenernya kamu cari? Apa yang sebenernya kamu mau? Apakah hidup kamu itu cuma nyari uang, membina keluarga, dan selesai? Ya, bisa aja abis itu kamu jadi seorang dermawan yang kerjaannya sumbang sana, sumbang sini. Ah, tetap saja rasanya seperti masih ada yang kurang.

Kita (manusia) diutus ke bumi untuk menjalankan amanah sebagai khalifah fil ardh, alias pemimpin bumi. Bumi dititipkan bagi kita untuk dikelola sebaik-baiknya dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan semesta yang sebesar-besarnya. Itulah salah satu sisi ibadah manusia, menjalankan perannya sebagai khalifah fil ardh.

Menurutku, dalam hidup juga kita perlu memiliki setidaknya sebuah mahakarya. Mahakarya ini juga sebaiknya benar-benar bersatu dengan nafas kehidupan kita, sehingga benar-benar merupakan visi hidup, bukan sebuah ‘kecelakaan’. Dan ada baiknya jika mahakarya tersebut dapat memberikan kebaikan pada banyak pihak terlebih bila dapat menjadi bola salju yang terus menggelinding dan membesar.

Ya, yang menjadikanmu benar-benar hidup adalah cita-cita tentang bagaimana kau akan mempersembahkan hidupmu.

“Jika hidup sekedar hidup, babi hutan juga hidup.
Jika bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja”
– Buya Hamka –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sekedar at aajaka.

meta

%d bloggers like this: