Mental Karyawan

December 1, 2012 § 1 Comment


Perusahaan tempatku bekerja ini perusahaan baru, belum setahun berdiri. Pengelolaan keuangannya belum berjalan dengan amat baik, fasilitas belum terlalu lengkap, pengawakan masih seadanya, dan format organisasi juga masih terus dapat berubah. Ini adalah hal yang amat wajar terjadi di semua perusahaan pemula (startup-dalam definisi ini).

Dua minggu ini waktu kerjaku lumayan panjang. Sebenarnya tidak cuma dua minggu ini, tapi hal seperti ini terjadi cukup sering, hampir setiap kali proyek. Bayangkan saja, mulai jam 8 dan pulang jam 22-24. Lebih parah lagi, di rumah pun masih saja ada yang harus dikerjakan, begitu juga dengan sabtu dan minggu. I feel like have no time anymore, my life is just about my job #lebay :p.

Berangkat dari situ, saya mulai berpikir untuk mengajukan lembur. Ya, di kantor saya memang belum ada uang lembur. Tapi ada uang saku untuk yang keluar kota, sampai-sampai penghasilan tukang testing bisa jauh lebih besar dari pada saya. Padahal, bisa dihitung load dan jam kerjanya.

Belum lagi, PM yang kerjanya gak pake otak gajinya lebih besar dari saya. Sebenarnya karena kebutuhannya hidupnya konon lebih besar dari kebutuhan hidup saya. Tapi saya tidak yakin, saya juga punya kewajiban membantu orang tua saya. Bapak saya sudah tidak produktif lagi, jadi harapannya saya menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi adik saya sekarang sedang kuliah di Bandung. Jadi?

Tapi bukan itu masalahnya. Pikiran mulai membanding-bandingkan ini tidak baik, pertanda mulai hancurnya mental. Ini tidak sehat, I have to change something!

Dan yang jauh lebih parah lagi adalah pikiran saya: Saya mulai berpikir untuk mengajukan uang lembur. Itu adalah yang paling parah. Saya seperti bermental buruh. Padahal biasanya, reimburse saja banyak koq yang tidak saya ajukan. Ada problem-problem reimburs juga, saya males ngurusnya. Beberapa ada yang gak keluar juga gak jadi masalah buat saya. (Dan sampai saat ini juga masih begitu, kecuali rapel, besar soalnya :p). Tapi sekarang saya mulai berpikir mengajukan lembur? What??!! Kayanya gak gw banget, gak asyik. Kayanya itu mental buruh banget gitu..

Perjanjian waktu pertama masuk, saya boleh punya bisnis, boleh aktif dimana-mana, kalau kegiatan saya ada di hari kerja juga bisa dikoordinasikan. Artinya jam kerja tidak terlalu straight, harusnya itu juga berlaku untuk jam pulang kerja dan jam libur.

Jam kerja benar-benar tidak terlalu straight, saya bisa mengerjakan pekerjaan saya dimana saja. Dan juga kalau saya ada keperluan organisasi, saya juga bisa izin. Saya pernah izin 2 pekan untuk ke Hong Kong, bahkan diongkosi. Bayangkan saja. Jadi kalau saya mengajukan lembur, itu sepertinya tidak fair. Apalagi sebenarnya gajiku termasuk di atas pasaran.

Saya juga ingin tetap berjalan seperti ini, punya waktu yang cukup untuk kegiatan-kegiatanku. Di sini juga saya ingin lebih banyak belajar menjadi entrepreneur, saya tidak ingin benar-benar menjadi karyawan.

Atas pikiran yang muncul ini, I just realize something wrong in my mind. For anything that I don’t like, I have to change something!

Think!

Advertisements

§ One Response to Mental Karyawan

  • nice posting, bro 🙂
    happy to read some stories of your life, especially what you feel about job.
    i hope, next time i can read your love story. i guess, it will be “cetar membahana” stories hehhee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mental Karyawan at aajaka.

meta

%d bloggers like this: