Analyst

November 2, 2012 § Leave a comment


“Ini perusahaan kita, mau kita atur seperti apa juga terserah kita”

Begitulah kira-kira kata Mas CEO. Salah sau pesannya adalah kita bisa memerankan apa yang ingin kita perankan. Kita bebas mencoba untuk menjadi project manager, analyst, developer, sales, pre-sales, atau apapun.

Saya sempat terpikir juga untuk menjadi Project Manager. Tapi belum sampai sehari, langsung kutarik lagi. Saya lebih memilih untuk tetap menjadi Analyst.

Jujur saja, saya masih anak baru, anak ingusan di dunia IT. Begitu banyak hal yang saya belum tahu, tetapi amat menarik untuk dipelajari. Sedangkan saya sendiri bercita-cita untuk mendirikan perusahaan (lagi), meski hampir pasti jenisnya berbeda dengan perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Wallahu’alam ya, kita tidak pernah bisa menebak masa depan, rencana pun mungkin saja berubah di tengah jalan.

Sebelumnya saya juga sempat mendirikan perusahaan yang jenisnya tidak terlalu berbeda dengan tempatku bekerja sekarang. Namun memang tidak bertahan, salah satunya karena pada akhirnya kita harus fokus TA, dan setelah selesai TA, banyak tawaran yang jauh lebih menggiurkan dari pada bersusah-susah merintis perusahaan.

Dalam beberapa poin perjalanan saya dengan Harits Way Coorperation, yang kemudian berubah menjadi C-Code, perusahaan yang dulu kami dirikan, saya mendapatkan pelajaran bahwa seorang pemimpin itu sejatinya harus dapat menghandle seluruh proses di dalam perusahaan tersebut. Bila anda tidak mempunyai talent untuk itu, sebaiknya anda mencari partner sesama co-founder yang memiliki talent itu, bukan menjadikannya pegawai.

Mengapa co-founder haruslah orang yang memiliki semua talent itu? Karena bila suatu saat pegawaimu berhalangan, kamu harus bisa meng-handle pekerjaannya. Dan kita adalah kunci terakhir, tidak ada excuse untuk kita tidak bisa. Bagaimana pun caranya, harus bisa.

Karena saya ingin sekali mempelajari semua hal/semua ilmu yang berkaitan dengan perusahaan, maka saya putuskan untuk menjadi analyst. Bagi saya, yang dipelajari oleh analyst itu lebar (wide), juga dalam (deep) pada waktu yang bersamaan. Selain itu, waktu yang diperlukan juga biasanya tidak selama waktu developement, sehingga kita bisa menikmati proyek lebih banyak dari proyek yang dinikmati developer.

Analyst itu ilmunya luas karena dia harus dapat melihat dari helicopter view, ia harus melihat keseluruhan. Selain itu, analyst juga biasanya mau tidak mau mempelajari seluk-beluk perusahaan klien, sehingga secara tidak sengaja juga belajar dari perusahaan klien. Yang ditemui oleh analyst juga biasanya dari orang yang jabatannya tinggi, sampai yang rendah sekalipun. Analyst harus mampu meng-capture kebutuhan perusahaan itu dengan sebenar-benarnya. Dan tentu diperlukan wawasan yang luas untuk itu. Kita harus mengenal berbagai solusi, berbagai teknologi, berbagai bisnis proses, berbagai infrastruktur, dan sebagainya.

Selain luas, ilmu seorang analyst juga harus dalam. Dia harus sebisa mungkin benar-benar menguasai solusi. Karena walaupun analyst tidak melakukan developement, tetapi ia harus dapat menyampaikan pada developer, apa saja yang harus dilakukan. Kita tidak mungkin mengomunikasikan sesuatu yang tidak kita kuasai. Oleh karena itu, ilmu seorang analyst juga harus lah dalam.

Thats why we proud to be an architect.

Sebetulnya belajar jadi analyst itu agak mabok juga. Rasanya pengen muntah-muntah deh.Tapi ini proses belajar yang juga menyenangkan. Ya, paling gak menyenangkannya kalau udah mau deket deadline aja, sama ada tuntutan harus meng-close sebuah step biar bisa nerbitin invoice, hehe. Ya, di sini juga kita harus ngukur, dengan waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu, berapa proyek yang bisa kita handle, apalagi dalam keadaan masih belajar.

Pada akhirnya saya bilang, “Mungkin performa kerja saya akan lebih bagus kalau saya jadi Project Manager (karena pengalaman organisasi-mengelola program-mengelola sumber daya-mengelola manusia- saya cukup banyak), tapi akan sangat sedikit yang dapat saya pelajari. Maka saya memilih tetap menjadi analyst, agar lebih banyak yang dapat saya pelajari”

*apalagi pada kenyataannya, saya juga yang menhandle pekerjaan project manager :p

“When you are young, work to learn, not to earn” -Robert Kiyosaki

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Analyst at aajaka.

meta

%d bloggers like this: