Tentang Film Tanda Tanya

April 12, 2011 § Leave a comment


Ini merupakan sedikit komentar saya tentang Film “?” di suatu milis. Maaf kalau berantakan, namanya juga komentar, bukan tulisan 😀

***

Kayanya saya harus cepet-cepet bikin tulisan ya… tapi males… plus TA juga udah ngejar-ngejar…. 😦

Intinya gini, ada istilah “Penulis itu telah mati (setelah karyanyanya terbit)”. Maksudnya adalah, setiap orang berhak menafsirkan sebuah karya dengan berbeda-beda. Paling gampang kita melihat ini pada fenomena puisi. Tapi sesungguhnya ini berlaku untuk semua karya sastra, termasuk cerita, bahkan esai. Nah dalam pandangan saya, begitu juga dengan film.

Film ini dapat ditafsirkan dengan berbeda-beda oleh setiap orang. Menurut saya sendiri, film ini sebenarnya tidak mengajarkan pluralisme. Film ini (menurut saya) hakikinya berbicara tentang keberanian untuk mengambil keputusan. Pluralitas dalam film ini hanya dijadikan sebagai setting sosial, bukan inti dari film. Namun memang Hanung terlalu berani.

Namun bila melihat trailer filmnya yang terlalu menjurus, saya juga jadi sedikit curiga bahwa Hanung memang ingin menyebarkan faham pluralisme. (meski tetap menurut saya filmnya sendiri tidak mengajarkan pluralisme.)

***

Ketika sebuah karya ditafsirkan berbeda-beda, ada sebuah hukum tidak tertulis, bahwa penulis tidak boleh protes. Jadi yang mengatakan film ini mengajarkan pluralisme adalah sah, demikian juga yang mengatakan bahwa film ini tidak mengajarkan pluralisme.

Di FLP, ungkapan ini (penulis telah mati) tidak berlaku, meski tetap sulit disanggah. Penulis harus beranggung-jawab terhadap karyanya, dengan bijak memilah karya mana yang patut diterbitkan dan karya mana yang sebaiknya hanya menjadi konsumsi pribadi. Oleh karena itu FLP pusat berusaha membuat mekanisme pencantuman label FLP dalam buku penulisnya. Bahkan setahu saya, FLP juga sempat mengeluarkan beberapa anggotanya yang bermasalah karena karyanya.

Mengapa sebuah karya dapat ditafsirkan berbeda-beda?

Setiap pembaca punya latar belakang, pengalaman, pegetahuan, pemahaman, pola fikir awal, dan berbagai informasi awal yang ia punya sebelum disuguhkan sebuah karya. Plus boleh jadi juga asumsi awal. Ini biasa disebut dengan Prapemahaman. Prapemahaman ini lah yang kemudian menjadikan penafsiran atas sebuah karya berbeda-beda.

Bagaimana dengan film Hanung?

Menurut saya film ini sebuah karya yang bagus. Saya menyesal tidak menikmati film ini, karena ketika datang, saya datang dengan niat membuat sebuah antitesis, bukan untuk menikmati. Namun bila kita berbicara tentang dampak, saya rasa seharusnya film ini cukup diterbitkan untuk kalangan terbatas karena memang terlalu rawan.

Salah satu catatan saya tentang film Hanung ini :

Saat pembacaan kutipan “setiap manusia berada dalam jalan setapak, dst” ini terlalu memomen (istilah memomen ini bikin sendiri :p). Maksudnya ini menjadi salah satu klimaks dalam film ini. Namun mesekipun adegan ini merupakan salah satu klimaks, adegan ini bisa diganti. Masih banyak simbol lain yang dapat dipakai. Jadi baiknya adegan ini diganti, karena adegan ini juga yang boleh jadi membuat film ini terkesan membawa ajaran pluralisme

Meskipun sebenarnya film ini boleh jadi sebuah realita, namun ada beberapa dampak (selain pluralisme tadi) yang dikhawatirkan :

1. Saya khawatir orang menganggap bekerja di restoran babi (meskipun semua peralatannya dipisah) itu layak dijadikan alternatif pekerjaan, bukan alternatif terakhir (hanya saat darurat)

2. Saya khawatir orang menjadi tidak hati-hati dengan tasyabbuh (menyerupai orang kafir)

Over all, menurut saya film ini adalah film yang bagus, namun berbahaya jika dikonsumsi oleh masyarakat umum. Semestinya film ini cukup menjadi konsumsi kalangan terbatas (namun saya berharap termasuk dalam kalangan terbatas tadi, agar bisa menikmati :p ). Sebelum menonton film ini, baiknya banyak-banyak dulu belajar tentang Islam agar tidak mudah terkontaminasi. Saya juga tidak akan menyarankan film ini untuk ditonton oleh adik saya, misalnya, meskipun adik saya sudah kuliah. Karena memang film ini berbahaya. Apalagi masih banyak alternatif hiburan lain selain film (ini), maka saya tidak menyarankan film ini untuk ditonton kebanyakan orang.

***

Sebetulnya masih banyak yang harus disampaikan. Makanya waktu coba ngetweet, saya awali dari unsur-unsur cerita, terus membahas tentang penokohan, dst…

ya, ini cukup kompleks. Wallahu’alam. Saya juga perlu dikoreksi. Mohon koreksinya..

Mungkin sekian dulu ya. Kalau sempet nanti ditulis. Kasian si TA ditinggalin mulu :p

Advertisements

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tentang Film Tanda Tanya at aajaka.

meta

%d bloggers like this: