JIL, Ahmadiyah, FPI, dan Blokir

February 6, 2011 § 1 Comment


Kawan, izinkan saya bercerita tenang sesuatu yang sebenarnya biasa-biasa saja dan mungkin tidak begitu penting. Entah, saya hanya ingin menceritakannya. Begini, dari dzuhur tadi timeline di twitter begitu ramai dengan tweettweet ber-hastag #ahmadiyah, #fpi, dan #jil. Beritanya memang simpang siur. Tempo merilis bahwa jama’ah ahmadiyah dari luar daerah mendatangi rumah Parman, salah satu pimpinan jama’ah ahmadiyah yang rumahnya berada di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik. Jama’ah yang bukan merupakan warga setempat itu datang dengan menggunakan dua buah kendaraan beroda empat dan membawa berbagai senjata tajam.

Warga desa umbulan merasa tidak nyaman dengan keadaan itu, maka mereka meminta jama’ah ahmadiyah untuk membubarkan diri. Namun jama’ah menolak, bahkan menantang. Salah satu tantangan mereka adalah, “jama’ah akan bertahan sampai titik darah penghabisan”. Mereka juga bilang, “lebih baik mati dari pada harus membubarkan diri”. Tantangan ini tentunya memancing warga yang awalnya masih mau kompromi, meski merasa tak nyaman.

Akhirnya warga secara massal mendatangi jama’ah. Namun ternyata jama’ah sudah siap menghadang dengan berbagai senjata tajam. Awal dari perkelahian ini adalah ketika salah satu warga desa umbulan dibacok hingga lengan kanannya hampir putus. Lalu bentrokan pun tak terhindari lagi hingga memakan korban jiwa.

Selain versi Tempo, ada juga versi timeline orang-orang yang disebut-sebut sebagai penganut Jaringan Islam Liberal yang biasa disingkat JIL, seperti @syukronamin, @GunturRomli, dan @ulil. Mereka seolah mempropaganda bahwa yang melakukan penyerangan adalah Front Pembela Islam atau yang juga dikenal dengan singkatan FPI. Padahal menurut Mubarik Ahmad (@mubarik63) yang notabene-nya Humas PB Ahmadiyah, FPI itu tidak ada di daerah Banten, baik itu di Serang, Cilegon, Cikeusik, dan sekitarnya. Tentunya argumen bahwa penyerang ahmadiyah itu FPI semakin terbantahkan, bahkan keluar dari tweet seorang humas ahmadiyah sendiri.

Ya, apapun alasannya dan siapapun pelakunya, setiap tindak kejahatan termasuk pembunuhan, pemitnahan, pengancaman tentu harus ditindak tegas. Saya mendukung agar setiap pelaku kejahatan khususnya dalam kasus ini diadili dengan fair dan seadil-adilnya tanpa pandang bulu. Apakah itu FPI, warga Cikeusik, jama’ah ahmadiyah yang selalu didukung jil itu, atau mungkin JIL dan siapapun itu. Siapapun dia harus dihukum bila terbukti bersalah. Semoga hukum dapat dijunjung tinggi dan keadilan dapat tegak di negeri ini.

Di sela-sela hiruk-pikuk timeline twitter tersebut, adzan ashar terdengar. Saya pun mengingatkan khalayak tweeps untuk menunaikan shalat ashar. Begini bunyi tweet saya : “eh, Ashar! ayo sholat 🙂 cc: @syukronamin @sukroanonim @ssirah @ulil @gunturromli | Menurut kalian shalat masih wajib, kan? ;))“. Memang agak nyeleneh. Maksud saya hanyalah untuk mengingatkan, karena aliran timeline yang begitu deras sangat berpeluang untuk melenakan dan membuat kita lupa waktu.

Namun apa yang terjadi? @GunturRomli malah membalas tweet-ku dengan nada yang saya tak mau menginterpretasikannya. Saya khawatir penafsiran saya nantinya malah menjebak saya dalam statement yang blunder. Begini jawaban @GunturRomli tersebut : “Ngajak sholat stlah buruh orang?”. Sepertinya ia mengetik dengan begitu cepatnya hingga ada kesalahan. Kalau boleh menebak, mungkin teks yang ingin Ia ketik adalah seperti ini : “Ngajak sholat setelah bunuh orang?”.

Saya tentu tersentak. Dan karena tak tega menafsirkan balasan tersebut, saya (@aajap) hanya bertanya pada @GunturRomli, dengan teks seperti ini : “Maaf. Saya yang mengajak shalat. Maksudnya yang mengajak shalat setelah membunuh, apa?RT @GunturRomli: Ngaja… (cont) http://deck.ly/~efI8X”

Lama saya menunggu, balasan belum juga tiba. Akhirya sekitar satu jam lebih setelah pertanyaan tersebut saya ajukan pada @GunturRomli, saya pancing dengan pertanyaan yang harapannya dapat membuat ia segera membalas. Seperti ini, pancingan saya : “@gunturromli koq ga mau jawab? Siapa yang ngajak shalat setelah bunuh orang? Atau ga bisa tanggung jawab ma tweet sendiri ya? ;))“. Tweet seperti ini seharusnya membuat ia malu dan merasa harus membuktikan bahwa ia tak asal ucap dan bisa mempertanggung-jawabkan tweet-nya. Namun ternyata tidak. Semoga ini bukan berarti ia tak tahu malu. 😀

Akhirnya saya tutup perbincangan tersebut dengan sebuah pertanyaan retoris : “@gunturromli masih ga mau jawab, siapa yang ngajak shalat setelah bunuh orang? Bisa tanggung jawab ma isi tweet sendiri ga sih, dia itu? ;))“. Yang tentunya tidak juga ia gubris.

Beberapa saat setelah itu, saya coba untuk membuka page-nya @GunturRomli. Ternyata  akun saya (@aajap) sudah diblokir oleh beliau. Hmmm… Ternyata seperti ini mental orang-orang yang katanya #jil itu. Suka mencela pemblokiran, padahal mereka juga doyan nge-block. Suka mengolok-olok ulama dengan dalih mengkritik, tapi ketika ditanya tentang statement-nya sendiri, seperti itu sikapnya. Hal serupa juga dilakukan @ulil ketika saya memprotes statement @ulil yang mengatakan bahwa kitab tradisi Islam itu porno. Semoga hal yang dilakukan @GunturRomli dan @ulil tersebut bukan dikarenakan pengaruh buruknya masa kecil mereka.

Pelajaran yang paling berharga dari kejadian ini adalah, berpikirlah sebelum men-tweet, pastikan apa yang kau tweet dapat kau pertanggung-jawabkan. Jangan asal bunyi alias asbun seperti pekicau-pekicau di sekitar kita yang tak perlu saya sebutkan lagi identitasnya. Yang pasti saya bersyukur karena saya bukan bagian dari FPI, dan jauh lebih bersyukur lagi karena saya juga bukan bagian dari JIL ataupun Ahmadiyah.

Sekian, Wallahu’alam. 🙂

Advertisements

Tagged: , , , , , , , ,

§ One Response to JIL, Ahmadiyah, FPI, dan Blokir

  • ixan says:

    wah mantap aa jaka. Kita memang mesti mmbudayakan tabayyun kesana-sini ya. Barusan karena terpengaruh video youtube yg mmperlihatkan kekerasan kekorban ahmadiyah malah saya berpikiran negatif sama pelaku penyerangan. Ternyata eh ternyata.. Syukron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading JIL, Ahmadiyah, FPI, dan Blokir at aajaka.

meta

%d bloggers like this: