JIL, Pemikiran, Dan Masa Kecil

January 30, 2011 § 10 Comments


Meski akun saya di twitter (@aajap) sudah di-block oleh @ulil, sesekali saya masih suka membuka timeline milik Ulil Abshar Abdalla tersebut. Saya selalu penasaran dengan apa yang hendak ia sampaikan pada khalayak tweeps. Dan pada tanggal 25-26 Januari 2011 saya menemukan tweet @ulil tentang tiger parenting. Saya ikuti tweet demi tweet yang ia sampaikan. Sekedar info saja: tiger parenting maksudnya adalah mengasuh anak scr keras dan “otoriter” spt dalam keluarga Asia pd umumnya”, terangnya.

Memang pada tweettweet tersebut mulanya terkesan akademis dan berwawasan. Dan saya akui, memang wawasan pendiri Jaringan Islam Liberal tersebut boleh jadi cukup baik. Hanya logika yang hendak ditularkan #JIL saja yang saya rasa banyak bermasalah. Saya khawatir, dengan tersebarnya pemikiran-pemikiran #JIL, akan semakin banyak ummat yang semakin jauh dari Islam. Wallahu’alam, boleh jadi salah satu puncaknya seperti kisah ospek di IAIN Sunan Gunung Djati, Bandung pada tahun 2004 silam, yang sangat kontroversial itu. Kalau tiak salah ingat, tepatnya di Fakultas Ushuluddin. [silahkan buka link video berikut : http://www.youtube.com/watch?v=y0WjZLjXiIw]

Bagi saya, hal ini tentu sangat meresahkan. Karena saya memiliki banyak teman, kerabat, sahabat, dan keluarga. Belum lagi suatu saat saya akan menikah dan punya keturunan. Saya akan sangat sedih dan menyesal bila ada di antara mereka yang terasuki pikirannya, sehingga mengarah seperti kejadian di IAIN tersebut. Sebuah kampus Islam yang mahasiswanya berani mengatakan ada area bebas Tuhan, bahkan secara tegas, jelas, dan gamblang berani menghina Tuhan dengan sangat kasarnya. Naudzubillah. Sekali lagi, ini adalah kekhawatiran. Bukan ranah saya untuk melakukan justifikasi.

Saya tak begitu tahu, apakah pemikiran-pemikiran yang disampaikan @ulil memang benar Ulil yakini, ataukah @ulil hanya ingin orang lain meyakini pemikiran tersebut saja. Sedang Ulil sendiri sebenarnya tidak begitu meyakini yang demikian. Atau pemikiran yang @ulil sampaikan memang benar-benar Ulil yakini juga, dan @ulil ingin orang lain berkeyakinan seperti pemikiran-pemikiran yang banyak @ulil dan @syukronamin sampaikan? Wallahu’alam.

Namun kali ini saya tidak hendak membicarakan tentang kekhawatiran saya tersebut, bukan juga hendak mempreteli satu demi satu pemikiran yang ia utarakan. Saya hanya ingin membagi sesuatu yang saya temukan di timeline @ulil. Sesuatu yang cukup menghentak saya tentang suatu hal. Yaitu pengaruh masa kecil terhadap kejiwaan seseorang, yang cepat ataupun lambat akan berpengaruh pada pola pikir orang tersebut.

Ya, Ketua Pusat Pengembangan Strategi Dan Kebijakan DPP Partai Demokrat tersebut seperti ingin didengar pada tweet demi tweet yang ia sampaikan. Ia menyembunyikan curahan hatinya dengan bebauan akademis yang menyeret pencantuman nama-nama penulis, peniliti, dan sebagainya. Bahkan pada statement dari tweettweet yang ia lontarkan kali ini, hampir semuanya saya sependapat. Walau memang saya cukup terganggu dengan istilah ‘liberal parenting‘ seperti yang ia twwet-kan, “makin makmur suatu bangsa, akan makin “liberal” cara mereka mengasuh anak. saya kira, itu hukum alam”. Ia ingin memaksakan bahwa segala bentuk yang demokratis harus mau dilabeli liberal. Padahal, tidak begitu menurut saya. Bukankah seharusnya ada juga istilah moderat? Namun, memang sepertinya saya hanya tidak sepakat dengan perbendaharaan istilah yang hanya ada dua itu saja. Lainnya, kurang lebih saya cukup sependapat.

Curahan apa yang @ulil selipkan agar tak begitu nampak dalam tweet demi tweet tersebut? Saya menangkap curahan tersebut ialah, ia ingin menyampaikan bahwa ia mengalami masa kecil yang kurang atau mungkin tidak menyenangkan. Seperti salah satu isi tweet-nya : “I’ve been through the pain of tiger-parenting myself” (Saya sudah pernah mengalami sendiri sakitnya tiger parenting). Ia juga sempat membalas tweet dari @Ceuribet seperti ini : “anak manapun akan protes jika diasuh dg cara tiger parenting“. Kita juga dapat merasakan nuansa penolakan terhadap tiger parenting dalam keutuhan tweet-nya tentang tiger parenting tersebut.

Dalam dunia psikologi, begitu banyak penemuan terkait dengan gangguan kejiwaan dan pola pikir yang diakibatkan oleh salahnya pola asuh. Sebagian besar diantaranya juga dikarenakan pola asuh yang setidaknya mirip dengan tiger parenting yang @ulil curahkan dalam tweettweet-nya tersebut. Ini sudah bukan merupakan hal yang asing lagi di telinga kita. Bila kita cari di google pun, akan sangat mudah menemukannya, bukan? Kita dapat menemukan arikel tentang Mental Disorder, berbagai macam Schizofrenia, dan masih banyak lagi.

Setelah saya mengetahui hal tersebut, saya mulai maklum mengapa @ulil menggunakan istilah liberal parenting sebagai antonim dari tiger parenting. Saya juga baru mengerti mengapa Ulil  tega membuat gerakan yang bernama Jaringan Islam Liberal untuk ummat Islam. Saya juga memahami mengapa @ulil seperti hanya mengetahui dua kutub di dunia ini, yaitu radikal dan liberal. Ia seolah tak mengenal kata moderat. Namun memaklumi, mengerti, dan memahami bukanlah berarti membenarkan.

Saya juga mulai berpikir dan menyadari. Cara saya (@aajap) dan juga beberapa orang yang juga begitu suka menanggapi aktivis #JIL dengan adu argumen bisa jadi salah bila ditujukan untuk membenahi pemikiran mereka, namun tetap harus dilakukan untuk mencegah semakin menyebarnya virus #JIL tersebut. Mungkin cara yang lebih tepat untuk memperlakukan para aktivis #JIL adalah dengan mengasihani, menyayangi, dan memberi perhatian lebih pada mereka. Yang sebaiknya memang berasal dari orang-orang terdekat mereka.

Wallahu’alam. Semoga ada hikmah dan manfaatnya. Bila memungkinkan, isnyaALLAH nanti saya (@aajaptweet-kan juga  🙂

Curhat @ulil :

ulil Ulil Abshar Abdalla

A lot of questions storm in my mind after reading recent story in Time magazine about Amy Chua and her ‘tiger parenting’ model.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

I’ve been through the pain of tiger-parenting myself. And I think this’s true of million of children growing up in traditional family.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Tiger parenting works for some children, but it can do a lot of damage to others. At least that what my experience tells.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

makin makmur suatu bangsa, akan makin “liberal” cara mereka mengasuh anak. saya kira, itu hukum alam.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Amy Chua is lucky enough to have Sophia and Lulu. Both benefit from her tiger parenting.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

But not all children are Sophia or Lulu in AmyChua’s story. And I know a friend who’s mentally damaged by his parent’s tiger parenting.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Sekedar info saja: tiger parenting maksudnya adalah mengasuh anak scr keras dan “otoriter” spt dalam keluarga Asia pd umumnya.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Beberapa hari lalu, Amy Chua, seorang profesor dari Universitas Yale keturunan Cina, menerbitkan buku: “Battle Hymn of The Tiger Mother”.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Buku Amy Chua itu langsung jadi pembicaraan di mana2 di AS. Isinya ttg pola pengasuhan anak ala keluarga Cina yg sangat keras, otoriter.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Alasan kelarisan buku Amy Chua itu mungkin krn orang Amerika terganggu dg pesatnya kemajuan Cina skg.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Majalah Time edisi terakhir menurunkan artikel panjang ttg bukunya Amy Chua itu, ditulis Annie Murphy Paul.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Judul artikel Annie di majalah Time menarik: “Tiger Moms: Is Tough Parenting Really the Answer?”

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Artikel Annie di majalah Time itu mewakili dg baik kegalauan masyarakat Amerika skg melihat kehebatan Cina saat ini.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Orang Amerika berpikir: jangan2 kehebatan anak2 Cina scr akademik dan kehebatan Cina sbg negara ada kaitan dg ‘tiger parenting’ itu.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Buku Amy Chua dg tajam membuat kontras antara pengasuhan anak liberal ala keluarga Barat dan “otoriter” ala keluarga Cina.

25 Jan Favorite Retweet Reply

sabar_tambunan Sabar Tambunan

by ulil

Tiger Parenting, saat ini bukunya sudah terjual >1juta. diperkirakan akan melonjak terus @ulil

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

@EddyLee27 saya jg mengalami “tiger parenting” itu.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Amy Chua scr implisit mau mengatakan: pola pengasuhan ala keluarga Cina yg keras itu lbh baik daripada pengasuhan liberal ala Amerika.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Buku AmyChua itu membuat penasaran orang2 Amerika krn mempersoalkan pola pengasuhan anak yg liberal yg dominan di AS selama ini.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Ada istilah “sputnik moment” di Amerika. Yakni: saat ketika bangsa Amerika kaget krn bangsa lain ternyata bisa menyalip AS.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Skg, bangsa Amerika mengalami “sputnik moment” itu melihat pesatnya kemajuan ekonomi bangsa Cina.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Fareed Zakaria menulis buku “The Post-American World”, al. cerita soal “the rise of the rest”, bangkitnya bangsa2 lain di luar AS.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Buku Fareed Zakaria yg saya sebut tadi itu sebetulnya menggambarkan keresahan bangsa AS melihat negerinya hampir disalip oleh Cina.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Buku AmyChua laris krn persis menjawab (?) teka-teki ttg “the rise of the rest” itu. Jangan2 ada kaitannya dg pola “parenting”?

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Jujur sj, “liberal parenting” skg ini sudah menjadi metode yg makin dominan di mana2 di seluruh dunia, terutama di kalangan kelas menengah.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Tesis saya: makin makmur suatu bangsa scr material, mereka makin cenderung “liberal” dlm mengasuh anak2.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Setelah makin banyaknya kelas menengah di Cina skg, akibat pertumbuhan ekonomi yg pesat, mulai muncul kritik atas tiger parenting di sana.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Tetapi, membaca rame2 soal “tiger parenting” ini, saya teringat wacana “Asian values” pd tahun 80an dulu.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Dulu, ada tesis ttg “Asian exceptionalism”: bangsa Asia yg beda dg Barat; krn itu standar demokrasi ala Barat tak boleh dipaksakan pd Asia.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Tp tesis “Asian exceptionalism” itu hancur begitu terjadi krismon pd 1997 dg dampak yg luar biasa, terutama scr politik.

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Wacana soal “tiger parenting” ini ada mirip2nya dg wacana soal “Asian values” dulu. Seberapa lama akan bertahan?

25 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Tapi, at the end of the day, ada plus-minus baik dlm model “tiger-authoritarian parenting” atau “liberal parenting”.

26 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

But making a chocie between different types of parenting methods is not as easy as it looks. Also, the answer is not once and for all!

26 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

But, yes, Amy Chua’s book stirs a lot of thoughts in my minds. And that’s what a book is for, isn’t it?

26 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

@Ceuribet anak manapun akan protes jika diasuh dg cara tiger parenting.

26 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Question is: how long is China able to keep liberalization in economy and politics apart?

26 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Pada akhirnya, falsafah Jawa benar: sawang sinawang. Ada kecenderungan seseorang melihat “rumput tetangga lebih hijau”.

26 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Dlm soal “parenting”, bangsa Amerika “sawang-sinawang” terhadap bangsa China, jg sebaliknya.

26 Jan Favorite Retweet Reply

ulil Ulil Abshar Abdalla

Demikian. Nite, friends!

26 Jan Favorite Retweet Reply


Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , ,

§ 10 Responses to JIL, Pemikiran, Dan Masa Kecil

  • sukroanonim says:

    Aku kurang paham detail liberal parenting. Tapi membebaskan anak2 yg belum bisa memahami mana baik&benar jelas berbahaya. Makanya Islam mengenal akil baligh, sebagai salah satu fase pendidikan anak

  • aajaka says:

    Yup, itulah dia. Seharusnya @ulil mengenal 1 istilah lagi : moderat parenting. Tentunya akan menjadi islamic parenting. Islam kan ummatan wasathon 🙂

  • ratri says:

    ini tentang JIL? ULIL atau PARENTING? kayanya masih kurang fokus. atau aku yang blm nangkep ya?

    ttg JIL.
    setiap komunitas Islam, harus nya memang saling bersilaturahim dengan baik satu sama lain. karena pastinya tujuan nya satu syiar islam. tapi beda lagi,kalau ada komunitas dengan cover islam berbeda tujuan hingga silaturahim nya pun susah nyambung dengan komunitas islam lain. so…tujuan nya gak akan tercapai kalo gini..
    silaturahim komunitas islam sangatlah penting, wong sama2 islam (satu keluarga besar yg talinya si sambung oleh Allah dan rasulNya…)

    ttg ULIL.
    aku kurang banyak tau ttg yg satu ini.
    jadi blm banyak bisa komentar.

    ttg parenting.
    fitrahnya manusia yang baik bisa mengetahui cara mendidik anaknya dengan baik. dan Allah menyempurkannya dengan menceritakan contoh2 parenting baik di Qur’an atapun via rasulullah.

    wallahualam…

  • A good post about Islam .. I am very happy to read it, because I’m continuing to learn about Islam

  • tuty says:

    lagi males bacanya eeeuuyy..hehehe… 😀

  • Jilan Fitri says:

    Waduh, aku tak ada hubungannya dengan JIL ya, apalagi sama jylland posten (geje).
    Ga baca tred-nya Ulil, tapi baca awa2 jadi pengen bilang
    Kasian ya Ulil……………………………………..
    kupikir kadang orang2 yang memiliki masa kecil kurang/tidak bahagia memang kerap punya pikiran yang lebih bercabang yang bisa bikin dia bijak (karena banyak pertimbangan) atau bisa bikin orang terbelit dengan cabang pikirannya sendiri.
    Btw nice post-lah Pak. Terus menulis, agar sehat dan awet muda 😉

  • mau komen ttg bahasan parentingnya..
    dalam dunia parenting, pola asuh sendiri dikategorikan 3 oleh para ahli :
    1. pola asuh otoriter (tiger parenting,Ulil said)
    2.pola asuh permisif (liberal parenting, Ulil said)
    3.pola asuh demokratis (moderat parenting, aajaka said)
    keotoriteran maupun kebebasan yang berlebihan tidak akan menghasilkan pendidikan yg terbaik bagi seorang anak..
    yups,,mungkin masa kecil ULil yg menjadikan ia seperti skrg ini,,ada sebuah nasihat yg bagus dari Dorothy Law Nolte ttg parenting..
    bisa dilihat di http://greenyazzahra.wordpress.com/2011/01/28/anak-belajar%e2%80%a6-dari-kehidupan/
    ditunggu kunjungannya yaa.. 🙂

  • […] Islam itu porno. Semoga hal yang dilakukan @GunturRomli dan @ulil tersebut bukan dikarenakan pengaruh buruknya masa kecil […]

  • MusaDaud.Com says:

    #JIL dan @ulil
    Dua hal yang sangat mengkhawatirkan dan menghancurkan secara perlahan, tapi masih banyak yang belum sadar…

  • jim says:

    hmm …

    saya lebih melihat bahwa itu hanya strategi ulil untuk menyampaikan ide ‘liberalnya’. cari referensi (kebetulan pake artikel tiger parenting), termasuk memperkuat ide dengan bagian pengalaman sendiri.

    buat saya, ulil hanya kecewa dulu orangtuanya tidak memberikan variasi antara tiger-parenting & ‘liberal’ parenting. sehingga ulil merindukan ‘nikmatnya’ liberal parenting karena efek ketidaknyamanan di tiger-parenting. meskipun belum tentu liberal parenting memberikan hasil yang lebih baik ketimbang tiger-parenting.

    lagi pula tiger vs liberal hanyalah cara … yang mestinya digunakan dengan bijaksana. manusia cuma bisa berusaha.

    dari petikan cuit2 ulil di atas, saya makin paham komentar mertuanya, gus mus yg terkesan menggampangkan ‘aksi’ ulil, “karena ada duitnya”. jadi kalo tidak ada yg mau memberi sponsor pada ulil, sepertinya aksi itu akan berhenti dengan sendirinya. sudah pasti aksi ulil itu penuh dengan kelemahan dan kekurangan dan hanya modal nekat (alias bonek) untuk ‘memperkenalkan’ ide ‘liberal’nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading JIL, Pemikiran, Dan Masa Kecil at aajaka.

meta

%d bloggers like this: