KulTwit Puisi Goenawan Mohamad

December 4, 2010 § Leave a comment


Kultwit tentang puisi dari @gm_gm (goenawan mohamad) pada 1 Desember 2010 :

1. Apa guna puisi? Sebenarnya tak ada. Kalau ada, spt guna lukisan yg kita pasang di dinding, lagu Sting & Bach yg kita dengar di radio. #p

2. Tapi di jaman dulu, puisi diberi isi petuah, atau hikayat. Bahkan, dlm bentuk mantra (yg juga puisi), tugas mengusir buaya. #p

3. Nah, karena kelaziman jaman dulu, puisi sekarang juga disangka atau dituntut punya keampuhan dlm bentuk petuah, pesan, penyembuhan. #p

4. Padahal ketika kita mendengarkan musik (Bach, Bonita, Budjana, dll) kita bisa asyik tanpa minta agar musik itu membuat kita “baik”. #p

5. Di negeri2 komunis, di zaman Stalin di Rusia dan Mao di Cina, puisi juga diberi tugas jadi pengubah jiwa manusia. Akibatnya: represi. #p

6. Maka di zaman Stalin, Penyair Anna Akhmatova dan Pasternak dibungkam. Penyair Mandelstahm dibuang ke Siberia. #p

7. Mengapa? Hanya karena mereka mau menulis sajak yg memberi alternatif bagi bahasa dan cara pandang yg berkuasa waktu itu. #p

8. Tampak, bhw meskipun tak jelas gunanya, tidak benar juga bhw puisi hanya untuk kenikmatan dan mengucapkan cinta. #p

9. Mari kita baca sajak Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono. Apa yg pertama kali terkesan? Bukan isinya. Tapi pesona dari kata2-nya. #p

10. Kata2 itu mempesona bukan karena “cantik”, “indah”, “keren”. Tapi karena rangkaiannya segar, terlepas dari bahasa yg itu-itu saja.#p

11. Bahasa yg terlepas dari klise menunjukkan cara memandang dunia yg tak beku, kaku, tertutup. Hidup jadi tampak kaya surprises.#p

12. Bahkan puisi juga membebskan makna bahasa yg terpaksa dibatasi, krn kebutuhan praktis, seperti bahasa dlm hukum dan ilmu. #p

13. Penyair Sutardji Calzoum Bachri (dia juga di Twiiter) malah ingin dan mampu membebaskan kata (makna kata) dari keterbatasan kamus. #p

14. Dgn puisi, dgn menikmati puisi, kita sebenarnya ikut merayakan pembebasan itu. Dan bukan sembarang pembebasan bahasa yg terjadi.#p

15. Dgn bahasa yg tak terjerat klise dan konvensi, kita bisa sampaikan cinta kita secara pas dgn perasaan kita, saat hati tergerak #p

16. Maka ada ketulusan. Ada kejujuran. Bukankah kita biasanya orang tak mau jujur dgn memakai kata2 klise, spt para politisi itu? #p

17. Pembebasan bahasa dlm puisi juga mengandung pembebasan tafsir atas bahasa itu. Tafsir atas sebuah sajak tak bisa diseragamkan. #p

18. Maka anda bisa tafsirkan sajak Sapardi sesuai dgn sikap anda suatu saat. Belum tentu cocok dgn tafsir orang lain. Dan itu tak apa-apa. #

19. Sebab puisi bukanlah rumus kimia, atau instruksi baris berbaris, atau manual memakai Blackberry. #p

20. Bahasa puisi pada awalnya bukanlah bahasa untuk komunikasi, tapi untuk ekspresi (yg dicoba di- atau ter-komunikasikan). #p

21. Isi yg bisa ditangkap pengertian, isi kognitif, bukan yg satu-satunya yg ada dlm puisi, bahkan bukan yg terpenting. #p

22. Sebab itu tidak tepat untuk membaca puisi sambil sibuk bertanya: ini maksudnya apa, sih? Dlm puisi, ada gerak yg tak bisa dirumuskan. #p

23. Bahkan banyak puisi yg mengandung unsur cetusan bawah sadar. Terutama dlm sajak-sajak yg bersifat surrealistis. #p

24. Misalnya sebaris sajak Sitor Situmorang: “Malam Lebaran/Bulan di atas kuburan”. Jika dianalisa secara akal, puisi ini “salah”. #p

25. Menurut tafsir saya, dlm sajak ini, bayangan kegembiraan Lebaran bertaut mendadak dgn bayangan berkabung. Tak ada yg salah, kan? #p

26. Atau satu bait sajak Hanna Fransisca dlm kumpulan yg baru2 ini terbit, “Konde Penyair Han”, yg diterbitkan KataKita…#p

27. “Ranting bambu telah terbakar, Han/ribuan akar ditanak/bersama butiran isakmu”. Beberapa “gambar” beda bertaut, kontras, memukau. #p

28. Buku puisi “Konde Penyair Han” baru2 ini masuk daftar yg diunggulkan utk Penghargaan Khatulistiwa. #p

29. Selain karya Hanna Fransisca, orang Pontianak itu, tentu perlu dibaca puisi para pemenang: Gunawan Maryanto dan Mardiluhung. Bagus2. #p

30. Ada dua buku puisi baru =yg ingin saya pujikan utk dibaca: Pertama, “Perempuan Yang Dihapus Namanya” oleh Avianti Armand. #

31. Yang kedua, tentu saja, “Buli-Buli LIma Kaki” karya Nirwan Dewanto, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Karya2 Nirwan terbagus… #p

32. Oh, ya. “Perempuan Yang Dihapus Namanya” oleh Avianti Armand diterbitkan oleh a publication. #p

33. “Perempuan Yang Dihapus Namanya” menuliskan kembali sosok2 perempuan dalam Perjanjian Lama. Hawa, Tamar, Batsyeba, Jezebel….#p

34. Dlm buku itu juga ada tokoh perempuan yg misterius, yg diciptakan (menurut sebagian tafsir) bersama lelaki pertama. Bukan dari rusuk. #p

35. Saya kutip dari “Buli-Buli”: “Perempuan yg bertubuh seluas malam itu/Rajin memecahkan cermin/Supaya bulan/Menjadi ibu bagi wajahnya”.

36. Sekali lagi, yg muncul dari bait ini kombinasi2 yg tak disangka-sangka, yg membuka hati kita utk kemungkinan2 yg berbeda. #p

37. Dlm sajak “Hawa” Avianti, adegan surga waktu manusia dicipta disusun spt dlm sebuah pentas. “Sebutir matahari untuk menandai Timur”. #p

38. Dari puisi spt itu, kita bersua dgn imajinasi manusia yg bisa menghadirkan yg tak terduga. Spt dlm kanvas Salvador Dali (lih.Wilkipedia)

39. Saya kira, itulah hal2 yg dihadirkan puisi: persentuhan dgn bahasa, tafsir, imajinasi dan kebenaran yg tak terpatok di satu kotak.#p

40. Sekian. Semoga ada gunanya saya bicara soal puisi. Tak cuma soal monarki, myabi, fpi, wasabi. Terima kasih utk atensi anda.#p

kultwit tentang puisi dari @gm_gm (goenawan mohamad) pada 1 Desember 2010 : 

1. Apa guna puisi? Sebenarnya tak ada. Kalau ada, spt guna lukisan yg kita pasang di dinding, lagu Sting & Bach yg kita dengar di radio. #p
2. Tapi di jaman dulu, puisi diberi isi petuah, atau hikayat. Bahkan, dlm bentuk mantra (yg juga puisi), tugas mengusir buaya. #p
3. Nah, karena kelaziman jaman dulu, puisi sekarang juga disangka atau dituntut punya keampuhan dlm bentuk petuah, pesan, penyembuhan. #p
4. Padahal ketika kita mendengarkan musik (Bach, Bonita, Budjana, dll) kita bisa asyik tanpa minta agar musik itu membuat kita “baik”. #p
5. Di negeri2 komunis, di zaman Stalin di Rusia dan Mao di Cina, puisi juga diberi tugas jadi pengubah jiwa manusia. Akibatnya: represi. #p
6. Maka di zaman Stalin, Penyair Anna Akhmatova dan Pasternak dibungkam. Penyair Mandelstahm dibuang ke Siberia. #p
7. Mengapa? Hanya karena mereka mau menulis sajak yg memberi alternatif bagi bahasa dan cara pandang yg berkuasa waktu itu. #p
8. Tampak, bhw meskipun tak jelas gunanya, tidak benar juga bhw puisi hanya untuk kenikmatan dan mengucapkan cinta. #p
9. Mari kita baca sajak Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono. Apa yg pertama kali terkesan? Bukan isinya. Tapi pesona dari kata2-nya. #p
10. Kata2 itu mempesona bukan karena “cantik”, “indah”, “keren”. Tapi karena rangkaiannya segar, terlepas dari bahasa yg itu-itu saja.#p
11. Bahasa yg terlepas dari klise menunjukkan cara memandang dunia yg tak beku, kaku, tertutup. Hidup jadi tampak kaya surprises.#p
12. Bahkan puisi juga membebskan makna bahasa yg terpaksa dibatasi, krn kebutuhan praktis, seperti bahasa dlm hukum dan ilmu. #p
13. Penyair Sutardji Calzoum Bachri (dia juga di Twiiter) malah ingin dan mampu membebaskan kata (makna kata) dari keterbatasan kamus. #p
14. Dgn puisi, dgn menikmati puisi, kita sebenarnya ikut merayakan pembebasan itu. Dan bukan sembarang pembebasan bahasa yg terjadi.#p
15. Dgn bahasa yg tak terjerat klise dan konvensi, kita bisa sampaikan cinta kita secara pas dgn perasaan kita, saat hati tergerak #p
16. Maka ada ketulusan. Ada kejujuran. Bukankah kita biasanya orang tak mau jujur dgn memakai kata2 klise, spt para politisi itu? #p
17. Pembebasan bahasa dlm puisi juga mengandung pembebasan tafsir atas bahasa itu. Tafsir atas sebuah sajak tak bisa diseragamkan. #p
18. Maka anda bisa tafsirkan sajak Sapardi sesuai dgn sikap anda suatu saat. Belum tentu cocok dgn tafsir orang lain. Dan itu tak apa-apa. #
19. Sebab puisi bukanlah rumus kimia, atau instruksi baris berbaris, atau manual memakai Blackberry. #p
20. Bahasa puisi pada awalnya bukanlah bahasa untuk komunikasi, tapi untuk ekspresi (yg dicoba di- atau ter-komunikasikan). #p
21. Isi yg bisa ditangkap pengertian, isi kognitif, bukan yg satu-satunya yg ada dlm puisi, bahkan bukan yg terpenting. #p
22. Sebab itu tidak tepat untuk membaca puisi sambil sibuk bertanya: ini maksudnya apa, sih? Dlm puisi, ada gerak yg tak bisa dirumuskan. #p
23. Bahkan banyak puisi yg mengandung unsur cetusan bawah sadar. Terutama dlm sajak-sajak yg bersifat surrealistis. #p
24. Misalnya sebaris sajak Sitor Situmorang: “Malam Lebaran/Bulan di atas kuburan”. Jika dianalisa secara akal, puisi ini “salah”. #p
25. Menurut tafsir saya, dlm sajak ini, bayangan kegembiraan Lebaran bertaut mendadak dgn bayangan berkabung. Tak ada yg salah, kan? #p
26. Atau satu bait sajak Hanna Fransisca dlm kumpulan yg baru2 ini terbit, “Konde Penyair Han”, yg diterbitkan KataKita…#p
27. “Ranting bambu telah terbakar, Han/ribuan akar ditanak/bersama butiran isakmu”. Beberapa “gambar” beda bertaut, kontras, memukau. #p
28. Buku puisi “Konde Penyair Han” baru2 ini masuk daftar yg diunggulkan utk Penghargaan Khatulistiwa. #p
29. Selain karya Hanna Fransisca, orang Pontianak itu, tentu perlu dibaca puisi para pemenang: Gunawan Maryanto dan Mardiluhung. Bagus2. #p
30. Ada dua buku puisi baru =yg ingin saya pujikan utk dibaca: Pertama, “Perempuan Yang Dihapus Namanya” oleh Avianti Armand. #
31. Yang kedua, tentu saja, “Buli-Buli LIma Kaki” karya Nirwan Dewanto, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Karya2 Nirwan terbagus… #p
32. Oh, ya. “Perempuan Yang Dihapus Namanya” oleh Avianti Armand diterbitkan oleh a publication. #p
33. “Perempuan Yang Dihapus Namanya” menuliskan kembali sosok2 perempuan dalam Perjanjian Lama. Hawa, Tamar, Batsyeba, Jezebel….#p
34. Dlm buku itu juga ada tokoh perempuan yg misterius, yg diciptakan (menurut sebagian tafsir) bersama lelaki pertama. Bukan dari rusuk. #p
35. Saya kutip dari “Buli-Buli”: “Perempuan yg bertubuh seluas malam itu/Rajin memecahkan cermin/Supaya bulan/Menjadi ibu bagi wajahnya”.
36. Sekali lagi, yg muncul dari bait ini kombinasi2 yg tak disangka-sangka, yg membuka hati kita utk kemungkinan2 yg berbeda. #p
37. Dlm sajak “Hawa” Avianti, adegan surga waktu manusia dicipta disusun spt dlm sebuah pentas. “Sebutir matahari untuk menandai Timur”. #p
38. Dari puisi spt itu, kita bersua dgn imajinasi manusia yg bisa menghadirkan yg tak terduga. Spt dlm kanvas Salvador Dali (lih.Wilkipedia)
39. Saya kira, itulah hal2 yg dihadirkan puisi: persentuhan dgn bahasa, tafsir, imajinasi dan kebenaran yg tak terpatok di satu kotak.#p
40. Sekian. Semoga ada gunanya saya bicara soal puisi. Tak cuma soal monarki, myabi, fpi, wasabi. Terima kasih utk atensi anda.#p

Advertisements

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading KulTwit Puisi Goenawan Mohamad at aajaka.

meta

%d bloggers like this: