KISAH PAHLAWAN KEMACETAN

December 6, 2008 § 5 Comments


Kamis , 4 desember 2008 ba’da isya selepas FLP, saya langsung meluncur ke Gramedia di Jalan Merdeka. Disana saya hendak mengambil jenazah almarhum handphone Nokia 3500c yang belum lama saya beli, namun garansinya lenyap ditelan derasnya air hujan. Mudah-mudahan ALLAH menggantinya dengan yang lebih baik.

Selepas mengambil handphone yang tinggal mayat tersebut, saya langsung bergegas menuju lantai 3 untuk membeli beberapa buah buku. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 20.40 saja. Padahal saya ada janji untuk berangkat bareng ke rumah Mas Bonjer dari kosan jam 21.00. Akhirnya saya langsung menuju tempat parkir untuk menancapkan gas samapai kosan. Dan saya melupakan buku “Quantum Ikhlas”. Gak apa-apa lah. insyaALLAH lain kali masih bisa. Atau ada yang mau minjemin? 😀

Sesampai di kosan, waktu menunjukan pukul 21.25. Tapi, untungnya saya tidak terhitung telat, karena Mas Bonjer dan Fiki belum sampai kosan saya. Memang cuaca sangat tidak mendukung kala itu. Hujan yang turunnya keroyokan ga kenal kompromi, langsung membanjiri beberapa ruas jalanan yang ada. Hal ini tentunya menyulitkan Mas Bonjer juga untuk mengendarai sedan putihnya. Akhirnya kita sama sama berjumpa di kosan saya pukul 22.30 dan langsung berangkat.

Di jalan, cukup bayak yang kita obrolkan, walau saya hampir lupa semuanya. Ada tentang banjir, polisi, dan sebagainya. Yang menarik ketika hampir tiba di rumahnya, Fiki mendadak berbicara soal jalangkung. Sayapun lupa sebabnya apa. Namun yang pasti pembicaraan langsung dihentikan oleh mas Bonjer. Bahkan Mas Bonjer bilang di rumahnya yang hendak sama sama kita tuju itu pun ada hal yang uniknya. Yaitu kalau malam, setiap lampu harus tetap dalam kondisi menyala. Tidak boleh ada lampu yang mati, karena bila lampunya mati, nanti akanada suara suara gak jelas. Ada yang nagis lah, dsb. Hingga percakapan diakhiri dengan ”Loe ntar di kosan gw ngaji ya.”, kata Mas Bonjer. Saya jawab, ”Iya yang penting sih, bukan dingajiin sekali dua kali, tapi bagusnya terus terusan dan yang ngaji itu penghuninya.”

Singkat cerita tibalah kami bertiga di rumah (neneknya) Mas Bonjer di kawasan Antapani. Kawasan rumah yang cukup elit. Saya sudah menyangka sebelumnya, soalnya penampilan Mas Bonjer juga mendukung. Dan rumahnya yang di Jakarta pun, tempat kami bermalam di seminar Global Internet Summit cukup mewah.

Setibanya disana, kami menuju kamar. Disana banyak buku-buku manajemen, entrepreneur, IT, dan tecnopreneur. Juga yang paling dominan adalah buku tentang design dan photography. Karena memang itulah kelebihan dia. Selepas searching buku buku untuk bacaan sekilas, Fiki langsung rebahan, dan tidak lama kemudian ia tertidur. ”Yah… kan harusnya kita ngobrol banyak nih, sekarang, tentang perusahaan kuta yang baru dapet 2 proyek ini.”. Yo wess, akhirnya saya dengan Mas Bonjer ngobrol berdua saja tentang beberapa hal.

Hingga keesokan harinyapun kami benar benar tidak jadi berbincang serius tentang perusahaan kita. Hingga pada akhirnya kami pulang menuju kosan saya sekitar pukul 7.30 atau 8 pagi. Di jalan, seperti yang sudah diceritakan via sms oleh teman saya, Iman, sangat macet. Begitu sampai di depan tol buah batu, mobil kami dihentikan kemacetan yang cukup lama. Kira – kira ada 40 menit lebih lha, mobil tidak bergerak sedikitpun. Maklumlah, di Kabuaten banyak titik banjir.

Di mobil kita banyak ngobrol kesana kemari. Saya dengan tidak serius berkata pada Fiki, ”Fik mending loe keluar Fik, liat kondisi jalan. Kira – kira kalau ntar lewat Sukapura macet nggak?”. Ini bener bener bercanda sebenernya, tapi, mendadak Mas Bonjer juga membalas, ”Iya, Fik bentar aja”. Wah saya jadi lanjutin juga deh. ”Iya Fik, yang berkorban itu pahlawan lho Fik, ntar gw posting deh di blog gw, kalau loe jadi pahlawan di tengah kemacetan”. Dan singkat cerita, tidak di duga-duga, Fiki benar-benar keluar dan mencek kondisi Jalan. Sehingga pada akhirnya kami pulang lewat jalan Sukapura dengan menempuh waktu perjalanan dari depan Tol Buah Batu hingga Masjid An Nur sekitar satu jam lebih.

Dan posting ini terlahir sebagai penunai janji saya pada Fiki, yang juga ditekankan oleh Mas Bonjer. ”beneran Jak, posting aja”. Lagian Fiki juga sempet bilang ”Beneran loe ya, ntar di posting”. Ya ini lah hasilnya, dan janjiku lunas sudah 😀

Advertisements

Tagged: , , , ,

§ 5 Responses to KISAH PAHLAWAN KEMACETAN

  • perempuan says:

    Kangen Selasar Salman…
    Kangen Ketawa bareng FLP-ers…
    Kangen saling membantai tulisan dan ngotot sama tulisan sendiri… hehe..

    Sampaikan salam saya…ya…
    Siapapun… walaupun saya ga kenal,

    Oh, ya… turut berduka cita atas nokia nya.

  • peduli fiki says:

    Hebat fiki jadi pahlawan… Jangan nakal ya

  • ade fariyani says:

    Quantum Ikhlas..mmm..itu buku seru banget, Dahsyatlah pokonya!!sy punya, tp lebih enak beli aja..soalnya ada cd-nya jg..SERU deh!!

  • @perempuan

    Boleh, insyaALLAH nanti disampaikan..
    Btw, salamnya dari siapa?. Saya kan ga tau namanya..
    Nokianya emang udah batas jatuh tempo rizky saya, berarti mba.. hehe ^_^

    @peduli fiki
    Wah… aliansi apaan nih?.
    Ada peduli fiki segala?. hehe…
    Iya, mas.. bilangin ke fiki, jangan nakal lagi.. :p

    @Ade fariyani
    Ini teh, adenya kakaknya ya?. 😀
    Bawain ya, bukunya kalau ke FLP..
    Ntar saya pinjem 😀
    hehe…

  • fiki says:

    wah ditulis semuanya wah ni anak benar2 semuanya ditulis ck ck ck kc kc kc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading KISAH PAHLAWAN KEMACETAN at aajaka.

meta

%d bloggers like this: